Satu komunitas yang menjadi benchmark kita adalah sebuah komunitas yang pernah menorehkan sejarah. Sekitar 1400 tahun telah berlalu sejak dunia menikmati
berbagai manfaat atas kedatangan mereka. Apa yang di antaranya saya kenang adalah 3 hal : Iman, Rasulullah dan pergerakan ...
Kehidupan mereka jelas tidak dipenuhi berbagai kecanggihan teknologi. Belum ditemukan Android. Belum ditemukan fuel cell. Belum ditemukan cold fusion. Tetapi dinamika bisnis, politik dan budaya jelas sudah mereka alami. Dinamika inilah yang menjadi 'training camp' bagi bagaimana kita bisa menikmati sebuah sejarah ttg iman, tentang utusan Tuhan, dan tentang pergerakan ... Bagaimana visi mereka ... bagaimana mereka bergerak ... bagaimana mereka menghdapi berbagai rintangan, penolakan dan penyingkiran dalam sebuah dunia yang, pun sampai sekarang, akan selalu dan terus diwarnai oleh persaingan al haq dan al bathil.
Terdapat satu goresan sejarah yang ingin saya tuliskan di sini. Saya kutip dari apa yang diungkapkan oleh ustadz Hasan Al Banna, sebagaimana saya baca dalam buku Hadits Tsulasa, Ceramah Hasan Al Banna yang diterbitkan oleh Era Intermedia tahun 2000. Buku ini merupakan terjemahan dari buku berjudul Haditsuts Tsulatsa lil Imam Hasan Al Banna yang disusun oleh Ahmad Isa 'Asyur, dan diterbitkan oleh Maktabatul Quran, Lith-thab wan Nasyr wa Tauzi, Kairo.
Hasan Al Bana mengungkapkan sebuah percakapan antara Rasul kita, dengan salah seorang sahabatnya. Sebuah percakapan yang akan menjadi menarik, kalau bisa berhasil berimajinasi ... seandainya kita adalah sahabat tersebut. Seandainya kita sedang berhadapan dengan seorang yang diutus oleh Allah swt, dan beliau berbicara dengan kita. Apa yang Rasulullah katakan, sesungguhnyalah sangat sederhana ...
Tapi seandainya kita adalah sahabat tsb ... yang berada di hadapan Rasulullah yang kita cintai itu, bagaimana response kita ?
Saat itu, Rasulullah menjenguk sahabatnya, Haritsah yang sedang sakit. Beliau bertanya, "Bagaimana kamu mendapati dirimu ?" Ia menjawab, "Aku mendapati diriku dalam keadaan beriman dengan sebenarnya kepada Allah."
Rasulullah lantas bertanya.
"Wahai Haritsah, perhatikanlah apa yang kamu katakan. Sesungguhnya setiap sesuatu itu ada tandanya. Lalu apa tanda keimanananmu itu ?"
Bayangkanlah ... pertanyaan ini dikatakan kepada kita, salah satu di antara yang di dalam hati telah bertekad menjadi pengikut beliau. Apa yang akan kita jawab saat itu, saat Rasulullah bertanya : Lalu apa tanda keimanananmu itu ?
Apakah kita akan menyediakan response sebagaimana generaasi unggulan yang memang layak menjadi pengikut beliau ? Haritsah telah melakukannya ... Atas jawaban Haritsah, Rasulullah berkata :
"Wahai Haritsah, engkau berarti telah tahu. Maka teguhkanlah keyakinan dirimu !"
Lebih dari 1400 telah berlalu sejak generasi itu mengakhiri peran peradaban mereka ... Sekarang, pertanyaan itu untuk kita. Sebuah pertanyaan paling fundamental sebelum kita, sebenarnya siap, terlibat dalam dinamika bisnis, politik dan budaya. Menariknya, kita sangat mungkin belum pernah "ngeh" akan pertanyaan ini, sementara kita telah menguasai strategi bisnis, skenario politik dan disain budaya ... Yang jelas, saya tidak pernah mendapat pertanyaan itu, pun di kampus yang "pernah dan masih berkeinginan" menjadi kampus paling visioner di negeri ini.